Hujan November (CERPEN)

6:38 AM




Aku menari dengan rintikan hujan kala itu. Melebur menjadi satu dengan air yang turun dari langit abu-abu. Kegelisahanku kulupakan, berdansa mengiringi alur irama rintikan demi rintikan yang jatuh ke tanah. Memegang kedua tanganmu, memelukmu dan bersumpah jika esok dan seterusnya kita akan selalu bersama. 

Senyumku tak berhenti, membayangkan kenangan indah ketika berdua bersamamu. 

Kala itu, tanganmu menyentuh wajahku yang basah, aku melihatmu menatapku dengan kedua matamu yang tulus. Kecupan dan hujan, merayakan kemenangan jatuh cinta dan cita tak terucap yang ada di dalam hati. Bukankah itu momen terindah dalam hidupmu, Cinta? Atau awal dari kisah perpisahan kita? 

Hari ini hujan, aku hanya bisa duduk di meja dekat jendela gedung kantor. Menatap gumpalan abu-abu membasahi kota ini, memberikan harapan dan takdir untuk mereka yang sedang berbahagia dan untuk mereka yang sedang merana. Kulipat lagi, kenangan demi kenangan di buku kecilku bersamamu. 

Dia memegang tanganku erat, mengajakku berlari menyusuri jalan-jalan kecil di kota ini. Dia berlari, dan aku takkan berhenti mengikuti, aku betah melihat wajahmu tertawa. Dia berteriak lega di ujung jalan, diikuti tertawamu yang takkan pernah bisa kuhapus dari memori. Aku memeluknya, hingga hujan berubah menjadi gerimis. Dan malam itu, diakhiri dengan kecupan kecil di ujung gang. 

Aku menghembuskan napas, bersandar pada kursi, mengalihkan pandangan ke titik kosong di awan. 

Hari itu, adalah hari terakhir aku bisa melihatmu. Tidak ada lagi kabar darimu, dan manusia bodoh ini hanya bisa berharap dia memberiku kabar dimana dia dan orang tuanya berada. Muda dan jatuh cinta, sekaligus merana, hingga saatnya ku tahu jika hari itu adalah hari terakhirmu di bumi. 

Belum ada seorang yang bisa membuatku jatuh cinta seperti kala itu, denganmu, mungkin hanya dia satu-satunya orang yang bisa membuatku benar-benar jatuh hati. Wajah-wajah yang datang dan pergi, namun perasaan menginginkanmu masih belum berhenti. 

Tidak ada momen yang membuatku menangis kehilanganmu, namun ada sisi lain dari diri ini yang merana menunggu penggantimu. Tawamu, kecupmu, dan hujan di bulan November. Apakah waktu bisa membawaku kembali? 

Untukku kala itu, yang terlalu jatuh cinta, hingga lupa untuk kembali merasakannya. Tidak ada cara lain lagi selain merelakannya pergi, dan menerima nasibku yang akan selalu sendiri. Hingga kita berdua dipertemukan kembali di surga.  

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram