Komitmen (CERPEN)

8:47 AM

Gambar terkait
© Love Inc. Mag


Sama seperti mereka, aku belum bisa berkomitmen untuk seseorang. Aku masih belum bisa memberikan seluruh hidupku dan berdedikasi untuk meletakkan nyawaku di tangan seseorang. Bukan tanpa alasan aku berdiam, melihatnya berlutut satu kaki dan menjulurkan satu kotak berisi cincin di depanku. 

Aku menggeleng.

Banyak riuh bisik di sekitarku, taman yang tadinya ramai menjadi hening saat dia melakukan drama ini. 

Aku menolak bukan karena tidak mencintainya. Tapi ada rasa ragu dan takut untuk mengangguk dan meyakinkan diri ini: ‘ini bukan saatnya.’, dan aku belum tahu saat yang tepat, bahkan aku tidak ingin merencanakannya. 

Bukan aku yang menangis terharu, tapi dia yang sedang berlutut. Dan juluran cincin tadi mulai melemah dan jatuh ke tanah. Aku bisa merasakan sebagian rasa iba dari mata-mata yang sedang melihat, tapi ada mata jengkel dan marah yang sedang melihatku. 

Bisa jadi ini adalah salahku, tapi dia bisa di posisi yang bersalah karena terlalu percaya diri untuk melamarku di keramaian. Dan aku tidak bisa membohongi diri sendiri, atau rela berkata iya hanya untuk kepuasan mereka yang sedang menonton atau dia yang sudah berusaha. Maaf, itu bukan aku. 

Dia bangkit, melihatku dengan pipinya yang sudah basah karena tangisannya sendiri. Aku hanya bisa melihatnya sedih, hal terbaik saat ini adalah pergi, menjauh dari situasi yang tidak membuatku nyaman. 

Langkahku berjalan menjauh dari kerumunan, melarikan diri dari situasi canggung yang sedang terjadi. Perasaanku yang naik turun tapi tidak merasakan sedikit pun penyesalan, apa yang kulakukan sama dengan apa yang ada di hati. Komitmen hanya untuk mereka yang telah siap, bukan mereka yang merasa siap. 

Aku tidak ingin salah melangkah, dan biarkan mereka mendewakan perkawinan, aku tidak pusing masalah waktu. 

Saat ini hanya ada aku dan bangku di pinggir jalan. Baru saja aku sadari, aku barusan melewati hari yang berat, dan membuat seseorang malu dan sedih. Jika dia bukan yang mengerti, maka dia bukan yang bertahan dan bersabar menunggu.

Banyak orang yang merasa siap, tapi masih belum diberi jalan untuk segera menikah. Pasti ada campur tangan-Nya untuk menunda ke-siap-annya, mau diberi ke siapa cintanya. Tapi untukku, komitmen bukan melulu soal cinta, tapi diri sendiri yang siap menerima konsekuensinya. 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram