Menuju ke Paling Timur Indonesia (1/3)

10:20 PM




Rasanya baru kali ini, saya menginjakkan kaki ke tanah paling timur di Indonesia. Lebaran tahun ini, saya diajak kakak saya yang sekarang tinggal di kota Tual, Maluku, untuk jalan-jalan dan... it's quite interesting.

Diawali dengan perjalanan selama 7 jam dari Surabaya. Transit beberapa kali yang bikin pusing karena gonta-ganti pesawat. Kami transit di Makassar selama 40 menit, yang aslinya cuma 10 menit karena setengah jam sebelum kami harus boarding alias naik pesawat, dan perjalanan selama satu jam setengah menuju Ambon, dan transit lagi selama sekitar satu jam, lalu terbang lagi ke bandara Langgur (Tual) selama satu jam setengah dengan pesawat baling-baling.

Transit pertama di Makassar sebenernya cukup asyik, karena bandaranya besar dan banyak makanan tapi kami sudah diburu waktu untuk naik pesawat lagi, jadi nggak sempat untuk beli makan atau jajan karena bener-bener sebentar. Saya suka banget sama bandara Sultan Hasanuddin di Makasar. Selain luas, bandara ini punya jendela kaca yang luas dan kursi yang berjejer panjang. Di langit-langit dalam bandara, corak hitam putih bikin mata adem waktu pertama kali transit di sini. Sebenernya, saya betah banget kalau disuruh transit selama berjam-jam di sini, karena bener-bener nyaman.

But, another call! Panggilan untuk segera boarding. Padahal kita nggak sempet beli apapun. Ah! Dari Makassar, kita terbang menuju kota Ambon untuk transit lagi. Selama satu jam perjalanan, yang saya lihat dari jendela pesawat cuma laut yang luaaaas banget! Indah sekali, saya merasa berjalan di atas awan.

Tiba di bandara kota Ambon, bandara yang menurut saya nggak luas tapi nyaman. Di bandara ini, nggak ada ruang untuk ke sana ke mari, tapi bandara ini punya pendingin yang nyaman dan nggak bikin saya nggak nyaman, but the random thing is... ada playground di dalam bandara. Unik, baru kali ini saya tahu ada lapangan mainan mini untuk anak-anak. Haha, damn i'm not even got that in picture.

Setelah sejam-an nunggu, kami boarding lagi. Kali ini, dengan pesawat baling-baling. Dari pesawat jumbo, ke pesawat yang lebih mini. Rasanya aneh banget, haha or is it just me? Ketika kamu merasakan yang tadinya balance, tapi berubah jadi shaky alias goyang-goyang di atas awan. Tapi nilai plus dari pesawat baling-baling adalah mereka punya pramugari lebih cantik! Haha...


Setelah satu jam di atas pesawat baling-baling, saya sampai dengan pemandangan luar biasa dari bandara. Jangan berharap bandara yang besar, karena bandara ini lebih kecil dari bandara kota Ambon.

Kami disambut dua wanita dengan baju khas sana yang menyapa setiap penumpang yang baru datang, (ah dang! i ain't got the picture!), kasihan mereka, kayaknya mereka kelelahan karena kemungkinan mereka sudah di pintu itu sejak pagi, sedangkan saya baru sampai sekitar jam 5 sore.

Sepanjang perjalanan, saya cuma melihat awan dan pohon. Dari bandara ke rumah suami kakak saya, nggak ada kata 'mewah' di gedung mana pun. Bahkan gedung pengadilan dan walikota saja yang bisa dikategorikan 'mewah', selebihnya? semuanya sama.

Jaringan di sini hanya ada sinyal jaringan dari Telkomsel. (Bukan iklan, well who am i not telling the brand, right?) kartu XL saya bener-bener nggak bisa napas di sini, sama sekali nggak ada sinyal. Ada beberapa iklan Telkomsel, dan provider lain mungkin tenggelam di sini. Untungnya, rumah kakak saya ada wi-fi.

Hari berikutnya, kami mengunjungi Pantai Pasir Panjang, di Maluku Tenggara, seperti menyebrang dari pulau ke pulau lain, tapi pantai ini bener-bener cantiiik! Selain pemandangannya, pantai ini nggak ramai sama sekali, dan yang bikin betah adalah pasirnya yang halus banget! Katanya pantai ini termasuk pantai dengan pasir terhalus.



Waktu dihabiskan dengan mengambang di pantai dan cuma melihat awan yang luas. Saya suka kehangatan dan ketenangan. Memang, saya lupa caranya berenang, tapi saya nggak lupa caranya ngambang di air. Haha!



 Berhubung liburannya belum selesai, saya bakal lanjutkan di lain post ya!


You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram