RENUNGAN (CERPEN)

11:21 AM

© Pinterest

Apakah kau juga pernah merasakan sepertiku sekarang?

Ketika kematian adalah jalan keluar dari semua jaring laba-laba ini?

Inilah arti kesendirian, menciptakan gelap yang benar-benar gulita ditengah pelanginya kota ini. Ada yang sedang tertawa, bahagia, dan sedih. Aku diantara mereka, salah satu kepingan yang tertinggal dari jalan kehidupan. 

Tidak berguna. 

Aku muntahan sampah, yang menjelma menjadi manusia. 

Banyak wajah yang aku lihat, benar-benar dibutuhkan oleh sekitarnya, satu wajah yang berbeda, dan itu adalah bayangan diriku sendiri, didepan kaca. 

Maknai tawaku dengan duka yang ada didirimu, aku ingin kau bahagia, lebih bahagia dari hidupku yang benar-benar sudah didasar bumi. 

Suatu hari, kamu akan mengerti kenapa aku begini, tolong jangan merasakan apa yang sedang kurasakan sekarang, tatap aku sebagai semut yang mati terinjak, tak ada yang peduli, berbangkai berdebu, hilang ditelan waktu.

Biarkan kuciptakan lapangan bermainku, penuh dengan orang yang aku cintai dan suasana yang aku harapkan, dan kupanggil surga, biarkan hanya bayangmu yang bisa kupeluk dan kusimpan, jangan ada kamu yang merasakan apa yang sedang kujalani. 

Melayang.

Terbang.

Tinggi sekali menembus awan.

Mendobrak es-es yang menggigil, dan mengawang diantara bintang, tersesat digalaksi yang gelap.

Hanya tubuhku yang mengawang, akan kutendang kamu kembali ke bumi, agar kau bahagia, dan aku tetap merana. 

Tersenyumlah. 

Tanpa aku.

Aku akan baik-baik saja, akan kujawab pertanyaanmu dengan seribu jawaban bermakna serupa, agar kau tahu betapa palsunya itu, hanya untuk seutas senyummu hari ini.

Terpejamlah.

Tidurlah.

Akan ku nina bobo-kan kamu dengan alunan nada yang telah kubuat, diantara kata yang ada, diterbatasnya prosa yang kuucap. 

Agar kamu tahu, aku tetap manusia, yang penuh dosa.

Hilang ditelan horison yang membingungkan.

Digaris planet yang tak pernah ada.

Diseutas benang merah didasar jerami.

Aku tidak pernah ada.

Aku ada karena benar-benar fana.

Bakar aku, Tuhan, di api neraka bersama guru-guruku, karena jika aku gagal, mereka gagal. Aku tahu, Kau tak sepicik itu, Tuhan. Aku benar-benar mengetahuimu, aku hidup didalam hirakimu yang tak terpetakan. 

Setiap napasku, setiap cahaya, setiap semilyar warna, Kau ada, Tuhan. 

Temani aku mengambang disini, bermain didalam imaji yang tak tersentuh, jangan biarkan mereka mengikutiku, biarkan hanya aku dan kamu, wahai sang pencipta yang tak bernama. 

Aku benar-benar sudah mati. 

Sejuta tahun sebelum aku lahir. 

Benar-benar tak berjiwa.


Benar-benar tak berguna. 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram