HAMPIR MATI (CERPEN)

7:33 AM

©Pinterest

Aku hanya lupa caranya, keluar dari lubang hitam ini, dari perasaan yang benar-benar akan merenggut nyawaku. Apakah itu salah?

Kamu pasti tahu maksudku, perasaan yang seketika mengubah waktumu menjadi pasir yang berdebu, saat itu kamu sadar, kalau orang-orang disekelilingmu tidak menginginkan kehadiranmu, tubuhmu dan otakmu tidak dibutuhkan.

Aku berada ditengah-tengah lubang itu, melayang dan menangis, merasakan inti-inti dari penolakan yang selama ini ku anggap ‘biasa’, menjadi ‘luar biasa’ dengan serbuan serapah yang ada.

Walaupun tubuhku sekarang ada disofa, mataku menatap jendela, tapi jiwaku masih tersesat dilubang hitam yang entah ada dibagian bumi mana. Hanya aku sendirian yang melayang, sedih, berteriak yang tak menghasilkan gema apapun. 

Sangat disesalkan, ratusan manusia yang kukenal tidak ada yang terjebak dilubang yang sama, tidak ada yang menemani kecuali diri yang sedang mengambang. Mengarungi beberapa kepingan yang menyimpan memori indah dan memori buruk. 

Dimana aku sekarang? 

Darah ditanganku sudah bercucuran keluar ke lantai, mataku lemas melihat jendela dengan siluet sore ini, kakiku berada ditanah, tapi serasa melayang.

Proses manusiawi yang indah sekali. 

Andaikan suatu hari aku benar-benar tidak bangun, biarkan mayatku benar-benar membusuk hingga kalian sadar, aku masih disini, menunggu tubuhku yang sedang terbaring ditatap oleh kornea matamu. 

Saat ini belum. 

Hanya ada tuhan dan aku. Sedang bernegoisasi tentang kematian. Andai kata aku berkata ‘iya’, malaikat akan segera datang dan membawa rohku untuk diajak jalan-jalan ke taman surga. 

Aku hanya butuh seseorang, yang tidak memandangku sama dengan lainnya, yang tidak memiliki perasaan aneh ketika bersamaku, aku hanya butuh manusia yang benar-benar bisa dipanggil ‘teman’. Sampai saat ini, belum kutemukan figur itu. 

Hingga aku sekarat seperti ini. 


Hampir mati. 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram