HAI. (CERPEN)

11:39 AM

© Favim


“Hai.” 

Hanya itu yang aku mau saat melihat layar handphone. Tapi mungkinkah dia sudi melakukan itu? Aku rindu. 

Kepalaku penuh dengan tanya, belum lama kita berpisah, tapi kau seakan ditelan bumi. Tidak ada namamu lagi disekitarku, padahal kita bersama selama bertahun-tahun. 

Sekarang aku lebih sering menatap kaca sendiri, dan membayangkan sosokmu didalam kaca itu, bukan aku. 

Aku menggenggam tanganku sendiri. 

Genggaman tanganmu, aku rindu. 

Tanganmu yang lembut dan halus.

Selembut tatapanmu ketika menatapku, sehalus bibirmu ketika aku mengecupmu.

Oh, aku terlena dengan kenangan ketika kita bersama. Ketika waktu hilang saat kita bersama. Saat kau melihatku tertawa dan aku melihatmu tersipu. Bukankah itu indah? 

Apakah dia merindukanku seperti aku merindunya setiap malam?

Padahal kita sudah terikat satu sama lain, teganya kau pergi. Aku tidak akan pernah menyesal pernah membuang waktu bersamamu. 

Sedikit saja, apakah kau bisa hadir lagi bersamaku, menemaniku disetiap malam ketika aku merindukanmu, ketika aku sekarat menunggu sosokmu. Aku benar-benar hampir mati karena tidak memenuhi janjiku, harapan yang pernah kita buat, bersama. 

Pintu kamar terbuka. 

“Den… Nggak kuliah?”, teman sekamarku, Tio, masuk dan duduk dikasurnya. 

Aku menggeleng. “Libur.” 

“Gak kerasa ya, abis gini kita lulus.” 

Aku tersenyum. Sambil memegang cincin dijari manisku. Tio melihat gerakan tanganku, dia melihat cincin yang sedang kupegang, wajahnya berubah muram. 

“Dia pasti seneng kok kalau lo lulus, Den.”, katanya sambil melihat cincin ditanganku. 

“Iyalah…” 

“Yang tabah ya, dia tenang disana, semua ada waktunya.”, dia bangkit dari kasurnya, “Gue cari makan dulu, laper!”, katanya keluar dan menutup pintu.

Entahlah, apa hanya aku yang merasakan semua ini, ketika semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tapi aku merasakan yang lebih dalam, sebuah harapan jika dia masih ada disini, disisiku menenamiku ketika aku membutuhkannya . 

Apakah aku terlalu tinggi ketika mengharapkan kita bersama selamanya dan menikah hingga aku menjadi kakek dan dia menjadi nenek. 

‘Lulus kuliah, aku tunggu kamu cari kerja dan kita menikah…. janji?’, dia mengacungkan jari kelingkingnya. 


Aku tersenyum, aku melihatnya duduk disebelahku, memelukku erat, walaupun semua terasa fana, diantara nyata. 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram