MALAM TERINDAH (CERPEN)

11:55 AM



Aku memandangimu sepanjang waktu. 

Apapun yang kau ucapkan, apapun perbincangan kita sekarang, tidak akan pernah ada kata menyesal aku pernah mengenalmu. Pernah mencintaimu. 

Hubungan ini tidak akan kunamai sebelum kamu dinikahi. Oleh lelaki, entah siapa tapi mungkin hanya aku yang berani. 

“Pernah inget waktu SMP, kita pernah duduk berdua dibangku terus kita malu-malu-an sambil bilang ‘aku cinta kamu’.”, aku tertawa dalam indahnya nostalgia, dia tertawa dalam kelegaan jiwa. 

Rinduku terobati hari ini, aku melihat senyumnya, setelah sekian tahun aku menunggu menyiapkan keberanianku, menyembunyikan keinginanku. 

Senyum itu mengambil seluruh fokusku saat ini. Aku bahagia melihatnya tertawa, tersenyum. Tidak ada lagi batasan yang bisa membuatku ragu untuk bertemu. 

Dengan kaos oblong putihnya, dengan kunciran rambut kudanya, tanpa riasan, aku mengaguminya apa adanya. Rasa ini bergetar tak gentar, meliukkan ketakutan dengan keberanian, jantungku masih berdebar ketika tatapannya menatapku sesekali. 

Rasa yang dulu pernah ada, ternyata masih ada, tersimpan dan mencuat ketika waktunya tiba. Aku tidak ingin menamainya ‘cinta’, ini berbeda, aku hanya tidak tahu apa namanya, tapi masih terasa sama. 

Ingin sekali tangan ini menggenggam tanganmu. Ingin sekali aku memeluk tubuhmu, aku ingin mengecup keningmu dalam dinginnya malam. Fantasiku denganmu takkan pernah berakhir sampai disini. 

“Tapi… mantanku yang paling sayang dan tulus itu… cuma kamu.”, katanya sambil tersenyum. 

Aku terdiam. Dalam kemenangan dan kemerahan wajah ini. Aku semakin tenggelam dalam lautan yang kubuat sendiri.

“Gak usah baper…”, katanya menyolek tanganmu. 

Aku tertawa. 

Baru saja, kulitnya menyentuh kulitku. Itukah genggaman yang pernah kurasa? Kenapa sentuhan itu semakin hangat, aku merasa menyesal dengan keputusan masa itu. Berpisah. 
Semakin hari yang kurasa adalah semakin menginginkannya. Oh Tuhan, terima kasih telah memberiku perasaan hidup ini, anugerah yang paling indah. 

Mataku tersipu malu ketika melihatnya bermain smartphone digenggamannya, dengan senyuman diwajahnya, dengan kenangan indah yang tidak akan terlupa, aku benar-benar merasakan hal yang sama ketika kita bersama. 

Aku tidak ingin pulang sebelum aku diusir, aku betah duduk disini, melihatmu dan perbincangan ini sudah lama kunantikan. Berat rasanya untuk berakhir, kumohon… aku tidak ingin ini terlupakan.   Aku tidak mau kita berpisah lama lagi, kembalilah dengan perasaan itu, kembalilah dengan wajah indahmu itu, kembalilah dengan berjutaan kenangan yang akan memelukku menghangatkanku setiap malam. 

Bahuku ditepuk dari belakang. 

“Jangan ngelamun…”, kata Ayahnya menyadarkan. 

Aku tersenyum malu. 

“Kalau ada waktu, temani si Putri ya, nak Deno. Dia kesepian.”, Ibunya meletakkan secangkir teh dihadapanku. Ibunya seperti menyinarkan lampu hijau seterang-terangnya kehadapanku.

Aku mengangguk dan tersenyum. 


Apa lagi yang harus kukatakan?

Jika ini adalah malam terakhirku, ini adalah malam terindahku bersamamu, menikmati dentingan waktu yang tak kusesali terjadi. Kuharap malam seperti ini akan terjadi lagi, malam dimana kenangan akan memelukku indah ketika kita bersama, dalam ikatan yang tak pernah ingin kunamai. 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram