KOSONG (CERPEN)

7:04 AM


Gemuruh mesin lewat terlalu sering, klakson dan terik matahari siang ini semakin membuat suasana pertemuan ini menjadi semakin canggung dan tidak nyaman. 

Sesekali mataku melirik perempuan didepanku, wajahnya masih membuatku tertarik, walaupun cemberut. Sekarang ekspresinya adalah datar dan genggaman sendok ditangan kanannya semakin kencang. 

Tidak hanya bising dari luar depot ini yang kudengar, namun dari dalam dirinya juga.

“Gini aja?”, katanya sambil mengaduk-aduk es campurnya.

Aku diam. 

Pikiranku kosong. 

Aku bukan tidak mau menjawab. Tapi, beberapa hari ini, pikiranku tidak memiliki arah. Tidak putih, tidak hitam, hanya ada abu-abu. Beberapa hari ini, aku merasa menjadi manusia yang paling sendiri didunia. 

“Oke. Aku pulang sendiri.”, sendoknya diletakkan dengan amarahnya. Dia mengambil smartphone disebelah mangkuknya.

“Naik apa?”, tanyaku dingin.

“Ojek.”, jawabnya membeku.

Tanganku daritadi memegang sedotan es teh dan mengaduknya. Mataku hanya melihat keluar depot ini, melihat kearah kosong trotoar yang dipenuhi sesak kendaraan bermotor. Napasku memberat, diberatkan oleh kilatan masa-masa remaja.

“Kamu pikir gampang…”

Wajahnya menatapku, bingung. 

Aku menatap matanya dalam-dalam. 

“Hidup tanpa seorang sosok ayah?”, aku meletakkan tanganku dimeja. Menenangkan diri, “11 tahun tanpa sosok ayah, dimasa yang seharusnya dia ada untuk menjadi contoh. Selama itu, saya berusaha bahagia, saya berusaha untuk tidak belok dari jalan. Saya berusaha. S-E-N-D-I-R-I.”

“M-maksud kamu?”

Aku tersenyum setengah. “Tanpa atau dengan kamu, hidup saya sama aja.”

Suasana mulai tak terurus, dengan kata-kata yang baru saja keluar, semua pusat fokus saya hanya ke wajah perempuan didepanku.

“Kamu sama sekali tidak membuat hidup saya menjadi lebih baik atau lebih buruk. Saya baru sadar, saya mencintai kamu hanya karena saya ingin membahagiakan diri saya sendiri. Bukan karena saya mau dengan kamu.”

Matanya mulai berkaca. 

“Saya nggak akan menyesal berkata seperti ini. Walaupun itu sakit, setidaknya itu adalah kata paling jujur yang pernah saya katakan ke kamu.”

Seorang pria berjaket hijau menunggangi motor bebek berhenti persis didepan depot. Alin berdiri, dengan mengusap pipinya dengan telapak, dia melangkah pergi. Tanpa sekatapun dia pergi, tapi aku bisa melihat dia masih kaget dengan apa yang barusan saya katakan.

Aku kembali meneguk es teh manisku yang tidak dingin lagi. 

11 tahun. 

Tanpa sadar, selama ini hanya mencoba membahagiakan diri sendiri. Aku tidak mau membohongi diri sendiri lagi, bahkan hingga urusan hati. Ternyata, selama ini aku hanya membutuhkan seorang figur pemimpin, tapi beliau telah pergi dekade setahun lalu. Aku ingin mengetahui cara bersikap dan bertindak yang selama ini kupelajari dengan ilmu embun, samar-samar kadang benar. 

Bahkan, dalam kekosongan pikiranku saat ini, tidak ada teman yang mau menemani. Mereka semua akan datang, kalau sedang butuh atau merasa penting bagi mereka. Selain itu? Hilang, ditelan bumi. 

Baiklah. 

Akan kunikmati segelas es teh anyep ini, menatap kosong kearah trotoar depot, aku ingin sendiri sampai hidupku berwarna, aku lelah mencari sosoknya lagi, biarkan yang lain menumpahkan cat ke hidup ini. Aku benar-benar butuh warna, dalam kekosongan.

Tapi sampai kapan?


You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram