Ada yang Mau Tidak Ada (CERPEN)

10:14 AM



Bangku kayu kasar. 

Bau seragam basah. 

Dari tertawa sampai cerita, ada diruangan ini. Entahlah sorak apa yang ada dipojok depan sana, mereka terlihat bahagia dengan tawa gigi putih yang semakin melebar. Atau mereka yang sedang berkumpul membuat forum diskusi tempurung kura-kura disana. Apapun yang mereka bicarakan, adalah topik kapur, satu hari jadi lebur. 

Kulit ini bermesraan dengan meja kayu ini. Tidak mendengar bisingnya ruang kelas ini ketika istirahat datang. Telapakku menopang dagu, telingaku menikmati lagu. 

Inilah masa SMA yang katanya ‘tak terlupakan’. Tak terlupakan jika sampai saat ini, aku masih tidak punya teman sama sekali. 

Apa mungkin aku kurang bergaya berandal seperti mereka yang sedang bercanda itu? Atau mungkin aku terlalu rapi dengan setelan seragam putih abu-abu ini? Ah, aku tidak peduli, yang penting lagu ditelingaku tidak pernah lepas.

Wajah-wajah yang tadi bercanda berubah menjadi wajah terburu-buru. Forum tempurung kura-kura tadi bersiap diposisi masing-masing. Baiklah, ini sudah jam masuk. 

Menurut jadwal, ini adalah pelajaran bimbingan konseling dari guru baru. Siapapun gurunya, aku tidak mau tahu, dan aku tidak mau kenal. 

Bangkuku berada diposisi strategis dipojok kelas bagian belakang. Sendirian tanpa teman sebangku. 

Wanita berkerudung pelangi masuk keruang kelas, mengenakan setelan berwarna coklat tua yang kontras dengan warna kerudungnya. Ada balutan pemerah dibibirnya, sedikit eye-liner dimatanya. Senyumnya memiliki dua arti: diam atau mati. 

“Selamat pagi, Anak-anak.”, sapanya seraya seluruh kelas menjawab, kecuali aku. 

“Perkenalkan, nama saya Rumi Setyaningsih. Panggil Ibu Rumi saja.”

“Selamat pagi, Bu Rumi…”, kata sebagian dari kelas. 

Telapaknya bertepuk. Wajahnya berubah menjadi sumringah dan semangat. 

“Oke! Langsung saja!”, katanya semangat. “Apakah kalian bersemangat hari ini?” 

“Semangat, Bu!”, seluruh kelas menjawab. 

Tidak sama sekali, teriakku dalam hati. 

“Saya yakin hari ini adalah hari terindah bagi kalian, begitu juga dengan hari-hari kalian sebelumnya. Kalian semua harus setuju!”, nadanya semakin tinggi dan bahagia. 

“Setuju, Bu!”, dijawab dengan semakin semangat. 

Baiklah kalau memang harus setuju. Akan kubuat hari kemarin adalah hari terindah. Yaitu hari dimana Ibuku tidak pulang sama sekali ketika Ayah meninggal, dan suami baru yang akhirnya menetap dirumah. Atau hari ini, dimana adik kecilku koma dirumah sakit dan Ibu masih juga kelayapan dengan suami barunya. Baiklah, ITU SEMUA INDAH. 

“Jangan pernah menekan diri kalian sendiri, kalian adalah manusia bebas! Kalian muda! Kalian bisa!”

“Kita muda! Kita bisa, Bu!”

Baiklah aku tidak akan menekan diri sendiri. Kecuali memang keadaan akan menekan seluruh emosi yang ada didalam diri untuk cepat keluar. Menangis dan menggila. Aku sama sekali tidak menekan emosi itu keluar ketika tahu hidupku adalah kacau balau didunia. Aku manusia bebas, aku masih muda. Bahkan didalam kamar mandi pun memiliki aturan, dimana sisi kebebasan didunia ini? 

“Jangan meninggalkan kehidupan! Karena kehidupan takkan meninggalkan!”, Bu Rumi sambil mengepal-ngepalkan tangannya keatas. 

Benar. Kehidupan tidak akan meninggalkan, dan kehidupan akan mempermainkan seluruh cerita dihidupku dari Ibu kelayapan, adikku yang koma, dan cinta pertamaku yang hilang. Benar, kehidupan tidak akan meninggalkan, tapi menjauh sejauh surga dan neraka. Percuma aku berlari untuk meraih tujuan hidup sempurna, barang mewah dan banyak teman, kalau memang takdirnya akan hilang, kenapa harus memiliki? Hanya untuk sakit hati? Kalaupun aku mau, aku bisa mendapatkannya, tapi hidupku sudah tak berselera dan tak beraroma. 

“Apakah kalian ingin tetap hidup sehidup-hidupnya dibumi ini?!”

“Iya!” 

Aku sudah mati. Mati rasa dan gaya

“Apakah kalian bangga telah lahir dibumi ini!?” 

“Bangga!” 

Bangga. Karena aku adalah hasil hubungan gelap ayah dan ibuku. 

“Kalian mau disini. Kalian ada karena kalian mau!” 

“Kami ada karena kami mau!” 

Aku ada karena sperma ayahku tidak sengaja menyentuh sel telur ibuku

Bu Rumi tertawa kecil, “Masa iya ada yang gak mau ‘ada’ dibumi ini…” 

Seluruh kelas tertawa. Kecuali aku. 

Ada. Dan orangnya ada disini. Didalam tubuh ini. 


Aku kembali mengenakan earphone-ku lagi. Telingaku tidak ingin mendengar kata-kata omong kosong guru baru itu. 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram