TRAUMA (CERPEN)

11:55 AM


Kemeja kotak-kotak, tanpa kancing terkait satupun.

Kaus oblong warna hitam.

Sepatu ber-merk. 

Rambut klimis, sisir kebelakang. 

Roda empat kemana-mana. 

Gadget diatas lima juta. 

Oh… boys.”, desisku melihat tampilan para lelaki dikampus ini. Entah disengaja atau tidak, mereka berseragam sama, mungkin hanya beda warna.

Aku duduk dibawah pohon, dibangku kayu mungil yang sudah kelihata rapuh. Kaki kananku berada diatas lutut kaki kiriku, telapak tanganku didagu, dan tanganku menopang diri ke kaki kananku. 

Mungkin bagi sebagian orang, posisiku sekarang adalah ‘posisi yang bukan kewanitaan’, dan akan ada mahasiswa atau mahasiswi yang memotret dan menyebarkannya melalui internet. Dan, aku akan dibicarkan seluruh kampus sebagai ‘Jomblo Ngelamun Kesambet Jin Pohon’. 

Fuck that…”, persetan dengan apa yang mereka bicarakan. 

Setiap aku melamun dan fokus ke satu titik, pasti ada titik lain yang membubarkan fokusku. Laki-laki. Mereka melirikku dengan mata yang ‘disayu-sayukan’ dan ‘dikeren-kerenkan’, atau memang mereka sayu? Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak suka. 

Terkadang mereka memberi sedikit senyuman orang struk, mereka senyum setengah wajah seakan bagian wajah yang lainnya sudah lumpuh dan tak berfungsi. Dan hampir setiap lelaki yang lewat, akan melakukan itu. 

Ok… ok. I admit it. Aku pernah tergoda dengan tatapan itu. Pernah merasakan ‘berpacaran’ dengan sebagian dari mereka. Tapi selama berpacaran, aku seperti bercinta dengan boneka. Boneka yang dibuat hanya untuk enak dimata, tidak enak untuk dirasa. 

Dan sedikit demi sedikit, aku mulai muak dengan situasi seperti ini. 

Andi Tompel lewat, tampilannya sama dengan 3 tahun lalu sewaktu dia masuk kuliah. Tompelnya masih sama dipergelangan kirinya. Kemejanya bermotif kotak seperti taplak meja makan. Kaus oblong warna abu-abu. Rambut yang dipoles, mungkin dengan minyak jelanta? Mengkilat dari jarak 15 meter. 

“Citra.”, nada itu melepas lamunanku tentang Andi Tompel. 

Aku menoleh kebelakang, tempat dimana suara itu berasal. Sudah kuduga, suara itu tidak asing ditelingaku. Dia Rio, jangkung berbadan kekar yang kerjaannya… ‘nampang’. 

“Fotomu hari ini sudah kesebar dimana-mana…”, katanya pelan. Nadanya dibuat-buat. 

Aku tersenyum mengiyakan. Lalu aku berpaling keposisi awal. 

“Kamu nggak harus kayak gini…”, nadanya meninggi, masih palsu. Rio beranjak menghalangi pandanganku. 

Aku berdiri, wajahku terangkat sedikit, tubuhnya sedikit lebih tinggi daripada aku. Tapi mataku menatap tajam-tajam mata yang ada didepanku. Aku tahu apa yang akan dia katakan, dan aku sudah tahu apa jawaban yang akan keluar dari mulutku.

“Sejak Si Boni pergi, kamu jadi suka ngelamun dan…”, katanya terpotong. Pipinya sudah merah merona. 

Aku menamparnya, sedikit memukul. “Justru Boni pergi gue bersyukur bisa lihat jelas laki-laki kayak lu!”

Wajah Rio kembali menatap wajahku. “Maksudnya?”. Sekali lagi. Aku menamparnya. Menendang perutnya hingga dia tersungkur ketanah. 

“Ngaca sendiri, kemeja kotak-kotak lu… minyak jelantah dirambut lu… sepatu mahal lu… mobil mewah lu…”, nadaku meninggi berangsur merendah. “Udah nunjukin kalau otak lu itu sama.” 

Baiklah, ini sudah cukup. Aku terlalu banyak mengeluarkan emosi yang tidak perlu. Aku berjalan menjauh, aku tanpa arah, keluar area kampus dan berjalan sendiri dipinggir jalan. Hari ini cukup melelahkan, cukup melelahkan untuk bernostalgia ketika mendengar namanya. 

“Boni.”, aku tersenyum kecut. Meringis males menyebut namanya. 

Aku pernah berada diposisi mereka. 

Diposisi yang kata para lelaki itu sebagai ‘confort zone’ sebagai impian anak muda. 

Aku naik mobilnya. 

Aku tidur dibahunya dengan kemeja kotak-kotak itu. 

Memeluk aroma wangi yang dulu kusuka. 

Dibalik itu semua, aku melihat betapa najisnya hidup ini. Betapa bodohnya aku melihat kepiting hanya dari cangkangnya saja. 

Aku tidak patah hati. Aku kecewa. 

Kecewa dengan perlakuan lelaki itu, Boni, kepada ibunya. Ibunya memohon bersujud dengan wajah pucatnya, Boni tidak peduli, menendang wajah Ibunya, dan pergi. Aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri. 

Dua hari setelahnya, aku berada dikelas yang sama. Pandanganku sudah berbeda sejak aku melihat kejadian itu. Lelaki dengan dandanan mirip Boni sedang berkumpul, salah satunya Boni. Dengan wajahku yang masih shock dan marah kemarin, Boni mendatangiku santai. Matanya sayu disayukan, nada bicaranya terdengar seperti tanpa dosa. 

Aku melepas rangkulannya. 

“Sayang, kenapa?”, katanya mengelus wajahku. 

Aku menampis tangannya. Jijik dengan sentuhan anak durhaka ini. Tangan kananku sudah mengepal keras, berotot hingga aku tidak sadar, tangan ini berayun kewajah Boni. Boni jatuh ketanah, tubuhnya tengkurap, aku bisa melihat darah keluar dari hidungnya. 

Kumpulan lelaki mirip Boni didepanku hanya bisa kaget dan terdiam kaku melihatku menghantam Boni. 

“Na… JIS!”, kataku setengah berteriak kekumpulan Boni didepanku. 

Aku bukan sok pahlawan Ibu Boni. 

Tapi aku hanya memikirkan, bagaimana jika nanti aku diperlakukan seperti itu. 

Bagaimana nanti pada masanya, aku kalah dengan anakku sendiri yang kurang ajar. 

Aku belum siap. 

Walaupun umurku sudah mendekati waktunya. 

Satu tahun lagi. Aku sudah dijodohkan.

Aku hanya tinggal menghitung hari, menunggu posisiku akan seperti Ibu Boni yang sengsara. 

Aku mulai merasa sanggup, disisi lain, aku adalah makhluk yang paling tidak sanggup menerima realita. 

Biarkan aku tetap menari dilamunanku, biarkan jemariku tetap mengombak agar aku bisa melayang. 

Berikan aku kesempatan sekali lagi. 

Berikan aku keajaiban untuk bisa melupakan kejadian itu. 

Aku tidak ingin mengingat. 

Tapi darah Ibu itu terus mengalir dari hidungnya. 

Aku tidak mau mendengar. 

Tapi dokter sudah mengatakan bahwa Ibu itu telah meninggal. 

Berikan satu hari saja aku untuk memilih hidupku

Untuk hidup sebagai lajang seumur dimana aku telah siap. 

Aku tidak bisa melupakan kejadian itu. 

Aku melihat matanya menyorot kemataku, seakan aku akan bernasib sama. 

Aku…

Trauma. 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram