PUTUS (CERPEN)

8:15 AM

© jdovegreen (wordpress)


Beginikah rasanya patah?

Beginikah seharusnya ini terjadi? 

Hidupku terikat oleh tali bernama ‘harapan’, terlalu sesak hingga aku lupa bernapas, hingga aku lupa diri, hingga aku lupa dengan sebuah kenyataan. 

Didalam ikatan yang memilki penuh warna, memiliki berjuta mimpi indah, aku melayang, aku terbahak bahagia, hingga gravitasi ada, menghempaskan tubuh ini ketanah sekencang-kencangnya. 

Aku mati gaya ketika dia bilang: 

“Sayang, kita harus bicara…” 

Sekelibat teringat dimana kita pertama bertemu. Pertama berkenalan, pertama jatuh cinta, dan pertama memiliki harapan yang indah untuk hidup bersama selamanya. 

Aku tak merespon, aku mati kutu, saat kamu bilang: 

“Maaf…”, katamu menyesal sambil meneteskan air mata. 

Lihat pohon dipojok jalan itu, apa dia pernah mengingat saat-saat kita berpacaran? Kita suka berteduh dibawah pohon, bersandar satu sama lain. Apa dia pernah ingat momen-momen konyol yang kita alami bersama? Ingat waktu aku biarkan kamu berjalan dengan tulisan dipunggungmu: ‘aset negara milik perorangan’, kamu baru tahu ketika kamu sudah pulang. Atau aku yang lupa menutup resleting celana, dan kamu biarkan sampai aku pulang kerumah. Momen itu sekarang tayang jelas didepan mataku, terngiang indahnya masa itu, pilu jika kubandingkan dengan apa yang sedang terjadi. 

“Kita harus putus.”, isaknya menjadi-jadi. 

Indah. Pedih. Bahagia. Sesak. 

Ingat suapan sup asin itu? Kamu tertawa terbahak, walaupun sebenarnya aku jengkel, tapi aku masih cinta, semakin mencintaimu. Apakah kamu ingat dengan pelukan diatas gunung itu? Aku masih bisa merasakan kehangatannya, ketika napasmu menyentuh jaketku, ketika tanganmu melingkar ditubuhku, ketika bibirku mencium keningmu. 

“Aku… Hamil… Dan… Ayahnya… Adalah… Marlo.”, dia menangis, menutupi wajahnya. 

Suaramu ketika memanggilku dulu adalah yang termerdu. Adipati, kamu singkat jadi ‘Dipa’, panggilan sayangmu untukku. Ingat ketika kamu kehilangan arah di Pasar Malang? Aku menemukanmu ketika kamu berteriak namaku ditengah kerumunan. Telingaku cukup sensitif untuk mendengar panggilan dari orang yang paling kucintai. 

Tapi kenapa ingatan itu tidak kunjung hilang saat ini terjadi? Kenapa ingatan ini semakin muncul kepermukaan otakku. Ingatan-ingatan, janji-janji, harapan-harapan yang kita buat bersama semakin terdengar disuara isak tangismu. Setiap air matamu jatuh kebumi, aku mendengar teriakan didalam hatiku yang berharap ini adalah mimpi burukku. 

Air mataku jatuh kepipi. Semakin deras, semakin kering. Tubuhku tidak bisa bergerak, mengaku dibekukan oleh kata-katanya. Aku tidak mampu melihat wajahnya, ingatan itu cukup jelas untuk kulihat sekarang. 

Kata-katamu muncul lagi: ‘Jangan cengeng, cowok gak boleh nangis.’, itu waktu aku kesakitan ketika jatuh dari motor, tanpa kesakitan, dia malah menolongku mengangkat motor yang jatuh karena terpleset genangan air ditikungan. Aku sedikit mengeluarkan air mata, tapi dia tak meneteskan mata sedikitpun. 

Sambil menutupi wajahnya, dia mendekat kedadaku. Dia memelukku, aku tidak membalas pelukan itu, aku… membeku. 

Untuk saat ini, peraturan ‘cowok dilarang cengeng’ hilang seketika. Kita berdua sama-sama menangis, seperti kehilangan sesuatu yang telah lama kita bangun bersama, yang telah lama kita jalani bersama, bahagia-suka-duka, hampir seluruh masa remajaku adalah dia, dia yang sekarang sedang hamil, hamil oleh seseorang yang bahkan tidak kukenal namanya, hamil diluar nikah. 

Ini adalah pelukan terakhir. 


Pelukan terakhir menangisi kehilangan bersama, kehilangan teman hidup yang tak sejalan. Kita akan berpisah, karena saat ini kita resmi: PUTUS. 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram