KEHILANGAN (CERPEN)

10:58 AM

© Pojemario
Kehilangan tidak akan pernah hilang didalam kehidupan. Menjadi aspek yang tak akan tergantikan dan tak akan pernah bisa didustai. 

Dari kehilangan pensil hingga kenangan. Semuanya pernah kualami, dan aku menyesal sedalam perut bumi. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. 

“Maaf…”, air mataku menetes kepipi. 

Ini adalah genggaman terakhirku, ini adalah kesan terakhirku melihat wajahmu yang sudah pucat dan tersenyum. Apa yang sudah kulakukan selama ini adalah sia-sia, bodoh dan tidak tahu diri. Tubuhku terlalu kotor untuk dekat tubuhmu yang terbaring saat ini. 

Langkahku menjauh, duduk dibangku paling depan sambil menangis. 

Ibunya datang menghampiriku, kerudungnya tidak serapat terakhir aku bertemu. 

“Nak, Norman.”, panggilnya sambil mengelus bahuku. “Sabar ya…”, terdengar isaknya ketika dia tahu aku juga menangis. 

Aku mengangguk pelan. “Maaf, Ibu…”

“Jangan pernah menyesal…”, katanya terhenti, isaknya semakin menjadi. “Kalau kamu menyesal, dia tidak akan pernah tenang…” 

Aku memeluk tubuh rentannya. Aku merasakan detak tubuhnya ketika isaknya semakin meledak. Aku bisa merasakan kesedihannya yang begitu dalam, dari caranya menangis memelukku, dia berharap sesuatu, yaitu ‘jangan menyesal’. 

“Amnesia sementara…”, samar-samar aku mendengar percakapan dokter dengan Mama dipojok kamar rumah sakit ini. Kepalaku pusing bukan main, tanganku sudah terhubung dengan pipa-pipa kecil dan refleksi tubuhku terpantul dari kaca kamar ini. 

“Total beberapa hari. Tapi suatu saat dia bisa sembuh, dan saya tidak dapat memastikan kapan harinya…”, kata-katanya terhenti mendengar suara seprai kasur yang menggesek, dia melihat tubuhku bergerak dan mencoba bangun. Matanya kembali ke tatapan Mamaku, “Kalau begitu… saya permisi, Bu.” 

“Ma…”, panggilku sambil berusaha bangkit dari kasur. 

Dia mendatangiku, membelai kepalaku dan memelukku ditubuhnya. 

“Jangan memaksakan diri, Norman.”

Aku memeluk tubuhnya, merasakan kain katun halus yang dikenakannya, mencium aroma wangi melati dari tubuhnya yang menenangkan, “Apa yang terjadi…” 

Pelukannya semakin erat. “Ssh…”, menyuruhku diam. 

3 hari setelah aku pulang dari rumah sakit, aku masih tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang sedang terjadi. Aku mengingat wajah-wajah yang lama kukenal, wajah-wajah yang masih ada dimemoriku saat ini. 

Rumah ini sedikit asing bagiku, bukan karena bentuknya atau alamatnya, tapi dekorasinya yang amburadul, ada janur pandan dipojok ruangan yang belum dibersihkan, ada kelopak bunga-bunga melati yang bertaburan dipojokkan ruang tamu seperti baru disapu. 

“Kok masih belum dibersihkan sih, Pak Bud.”, Mama mengeluh ke Pak Budi satpam rumah ini. 

Aku duduk disofa putih. Melihat kebayangan Mama dan Pak Budi yang terlihat dari balik jendela, aku melihat kesekitar mencoba mengamati apa yang ada disekelilingku. 

Rumah ini berantakan, seperti baru saja ada acara disini. 

“Ya sudah! Bersihkan sekarang! Panggil Wati dan Hendro!”, selesai Mama memarahi Pak Budi dari balik jendela, ia masuk kedalam rumah, melihatku duduk disofa, wajahnya sedikit tegang dan tersenyum tipis. 

“Siapa yang habis pesta disini?”, tanyaku setelah melihat berbagai macam jajanan diatas meja. 

Dia tertawa kecil. 

“Ma?” 

Mama tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah naik kelantai atas, suara hak tingginya lama kelamaan memudar, tergantikan oleh suara tutupan pintu dari atas. 

Aku naik kelantai atas. Menyusuri lorong yang penuh dengan kain katun putih yang tertata rapi dipenjuru lorong. Aku lupa kamarku yang mana. Aku membuka setiap pintu yang kulewati, menemukan aroma yang tidak asing bagi penciumanku, tapi sejauh ini yang kucium bukan aroma kamarku. 

Saat kubuka pintu terakhir diujung lorong. Aku terdiam. 

Kamar ini penuh dengan kelopak bunga warna putih dan merah. Dekorasi kamar ini sudah ditata rapi dengan bunga-bunga di vas yang berada disetiap sudut kamar. 

Sekelebat wajah wanita muncul dimemoriku. 

Telapak tangan menepuk bahuku, “Norman.”, tepukannya membuat semua memori diotakku kembali masuk dan urung kembali. Tapi aku masih mengingat wajah wanita itu. 
“Siapa dia?”, seraya aku bertanya. 

Wajah Mama kebingungan.

Aku memegang tangannya erat-erat, “Jawab, Ma.” 

Sekali lagi, dia memelukku erat-erat.

Aku balik memeluknya. 

“Aliyah.” 

“Siapa?”, aku sedikit pusing ketika mendengar itu. 

“A-L-I-Y-A-H.” 

Aku mengerjapkan mataku. Tiba-tiba memori-memori kecil menyerang seluruh jaringan otakku yang tadi tak terjamah oleh sesuatu yang sangat sakral untuk dibuka. 

“5 hari lalu…” 

Aku memeluknya lebih erat, serangan memori ini tidak bisa kutahan lagi. Aku hampir kehilangan gravitasi dibuatnya. 

“Pernikahanmu dengan Aliyah gagal. Tiba-tiba… Aliyah hilang dari kamar pengantin.”, ceritanya cukup jelas untuk menjelaskan gambaran yang ada diotakku. 

Aku mengejarnya, keluar dari jendela kamar ini. Loncat dari lantai dua. Aku mengejarnya keluar rumah. Aku masih bisa melihat gaun pengantin kebayanya terurai dijalanan, melati-melati yang ada dikepalanya berguguran detik perdetik, mirip dengan impian-impianku yang berguguran. 

Saat wajahnya menoleh melihat kebelakang kearahku, air matanya telah merusak tata riasnya, matanya berlinang air mata hitam dari dandannya sendiri. 

Saat kulihat kelopak mata itu melebar, dia malah berbalik arah, telapak tangannya mengarah ke arahku, wajahnya panik, dia berteriak, “Awaaaaas!” 

Hitam. 

Pekat. 

Aku kembali terbangun dari mimpi tadi. Aku masih memeluk tubuh Mama. Tubuhku mengigil karena serangan kenangan yang tak kenal urutan. 

Hari itu juga aku minta untuk diantar kerumahnya, tapi Aliyah sekeluarga tidak ada dirumah. Mereka sedang berada dirumah sakit. 

Aliyah terbaring diatas kasur rumah sakit, dia tertabrak setelah aku tertabrak. Keluarganya menceritakan apa yang Aliyah katakan sebelum koma, yaitu “Bu, Aku tidak cinta dengan Norman… Jangan paksa aku… menikah.”, baju pengantin putihnya bersimbah darah, dan wajahnya penuh dengan muntahan darah. 

Belum dua jam aku datang, tiba-tiba Aliyah kritis dan nyawanya tidak tertolong karena pendarahan yang begitu hebat saat kejadian beberapa hari lalu. Tim dokter hanya bisa meminta maaf karena hanya bisa mampu untuk mempertahankan nyawa Aliyah yang sebenarnya sudah tidak terselamatkan. 


Didalam pelukan tangis ini, aku menyesal kepada diriku sendiri. Menyesal karena mau dijodohkan, menyesal karena hari pernikahan itu ada, dan menyesal karena aku baru saja menghilangkan dua nyawa: nyawa Aliyah dan nyawa nafsu bercintaku lagi. 


-Rahmad Kurniawan / 25 Maret 2016

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram