VALENTINE UNTUK PELACUR (CERPEN)

1:20 AM


1 tangkai mawar merah.

1 batang cokelat manis. 

1 kecupan didahi, ketika hari valentin. 

It’s just for the boys and the girls, Dear.”, kataku dalam otak. Aku masih terus menghisap rokok ini, ditengah kasur dengan jendela hotel yang terbuka dan kasur yang berantakan. Baju tidurku sudah tak semulus setengah jam yang lalu, rambutku kacau karena dia terus menjambak ketika kita melakukannya. 

Hari ini adalah hari kasih sayang, Valentine’s Day, dan seluruh dunia merayakannya sebagai hari yang penuh dengan cinta, hari yang penuh dengan bunga, dan hari yang penuh dengan cokelat. 

10 tahun lalu, aku masih kelas 3 SMA, dan pertama kalinya aku merayakan hari kasih sayang dengan seorang pacar. Namanya Robert, kupanggil Ubet. Dia adalah salah satu cowok tertampan disekolah ini, yang akhirnya dia memilihku untuk menjadi pacarnya. 

Aku meringis. 

Hari itu, 14 Februari 2005, penuh dengan kebahagiaan. Penuh dengan bunga, penuh dengan cokelat, dan penuh dengan kecupan. Walaupun aku sudah merasakan cokelat itu beribu kali sebelumnya, tapi rasa cokelat yang ‘biasa’ itu menjadi ‘luar biasa’ ketika dia yang memberi. Mungkin aku hanya terjebak keindahan sehari itu. 

Hari itu juga, aku memberikan keperawananku ke dia, mahkota yang kujaga agar tidak tersentuh oleh siapapun akhirnya disentuh oleh sang pangeran. 

“Pangeran Bajingan…”, kataku pelan sambil menghisap rokok ini. 

Dan 15 Februari 2005, Ubet meminta hubungan itu segera berakhir, dan alasannya masih menempel diotakku: “Felicia… dia hamil.”, katanya sambil menunjuk kearah wanita yang tidak asing wajahnya. 

Dia sahabatku sendiri. Aku melihat Ubet, “Risa?”, aku tahu pembicaraan ini akan mengarah kemana. 

Segeralah aku mengakhiri pembicaraan ini dengan tamparan tangan kanan kewajah Pangeran Bajingan itu. Tamparan itu seperti meneriakkan kata-kata kotor yang tidak ingin kusebut waktu itu, dan setelah kejadian itu mereka menikah setelah lulus sekolah. 

And they’re happily ever after…”, nadaku seperti membaca akhir kata disetiap dongeng, rokok ini masih sisa setengah. 

Mereka bahagia. Aku merana. Hidupku sudah hancur karena bayang-bayang suram masa depanku, orang tuaku meninggal karena kecelakaan setahun setelah aku lulus sekolah, aku hanya mempunyai kakak perempuan yang memutuskan untuk jadi TKW di Malaysia, dan tidak ada kabar setelah setahun orang tua meninggal. 

Salah satu pekerjaan yang menyelamatkan hidupku saat ini adalah ‘Pelacur’. Aku terjerumus kedunia ini, dari jalanan hingga booking-an pejabat. Banyak pejabat yang menyerukan melarang PSK sepertiku ini berkeliaran pernah tidur denganku, dan dia menikmati setiap sentuhan ketika dia tidur denganku. 

Hypocrite Bitch.”, ini adalah hisapan rokok terakhirku. 

Bayangkan sudah dimana hidupku sekarang jika aku tidak menjadi pelacur dari dulu, mungkin aku sudah hanyut disungai dengan bunga mawar dan bungkus cokelat yang bertaburan dihari valentine itu. 

Pak Toriq keluar dari kamar mandi. Dia sudah rapi dengan setelan jas dan dasi. Dia tersenyum padaku. 

Happy Valentine’s Day, Sayang.”, katanya tersenyum 

Aku tersenyum. 

Tidak ada lagi hari kasih sayang bagiku, seribu bunga mawar pun sekarang tak ada artinya, dan sebongkah cokelat batangan mahal sekarang sudah hilang rasa dilidahku. Kecupan didahi yang dulu romantis, sekarang tidak berarti bagiku. 

Pak Toriq datang kehadapanku, mencium bibirku. 

Ciuman ini tidak punya rasa lagi, hati ini tidak lagi memiliki cinta, cinta hanya auman singa yang tak memiliki gigi. 

Pak Toriq melemparkan sekepal uang ratusan ribu kekasur. “Sampai ketemu lagi.”, katanya sambil berjalan keluar dari kamar ini. 

Inilah hari valentine untukku, untuk para pelacur sepertiku. Karena aku dibayar untuk menciptakan hari-hari mereka bergairah. Hari-hari mereka menjadi penuh dengan cinta. 


Happy Valentine’s Day…”, kataku pelan. 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram