MORAL (CERPEN)

1:26 PM

© Beat Your Fears

Mereka berteriak ‘moral’ dibawah peci hitam, didepan ribuan orang. 

Menghina. 

Menghujat.

Menolak. 

Mengambing hitamkan. 

Mereka lupa dengan perkataan mereka sendiri, kata-katanya menelan habis-habis dirinya sendiri. Apakah yang dilakukannya sekarang ber-‘moral’? Apakah mengina itu ‘bermoral’ bagi mereka? Apakah menghujat, membenci, menuduh itu ‘bermoral’? 

Tulisan ‘Anti-Gay’ dan ‘Anti-Lesbian’ bertebar dimana-mana, mereka yang berada dibarisan paling depan berteriak kencang seperti kesurupan mengucapkan kata-kata suci yang diucapkan untuk hal-hal yang kotor ini. 

Aku tetap memotret mereka, kartu pengenalku menyelamatkanku dari baris-baris batas umum, yang boleh masuk hanya pers. 

“Mereka merusak moral bangsa ini! Mereka harus dilenyapkan!”, sang orator yang berteriak dipengeras suara, gendang telingaku hampir pecah mendengarnya, kata-katanya sekali lagi menelannya. 

Lihatlah mereka yang berteriak ‘bermoral’ melakukan sesuatu yang tidak bermoral, yang bagi mereka adalah ‘contoh baik’ bagi masa depan bangsa ini. Jika si orator itu jadi presiden, masa depan bangsa ini adalah: membenci, menghujat, membunuh, dan bangsa ini akan hancur oleh ketakutan. 

Ketakutan akan jati diri yang ‘takut salah’ padahal adalah murni dari dirinya. Keberanian akan hilang, kepalsuan akan melanda, tidak ada lagi ‘kejujuran’. 

Sebelum mereka berteriak seperti ini, aku memiliki teman yang mayoritas adalah pecinta sesama jenis, dan sampai sekarang mereka hidup harmonis, walaupun ilegal. Bahkan ibuku selalu bilang untuk menjauhi mereka, nanti aku ketularan ‘suka sesama jenis’, karena baginya itu adalah penyakit yang menular. 

15 tahun yang lalu, aku sudah membuktikan ke Ibu, bahwa aku adalah penyuka lain jenis, aku mencintai seseorang yang aku cintai, dan dia berjenis kelamin wanita. Dan aku telah menikah dengannya.

Satu jawaban kenapa aku mencintai dia? Aku tidak tahu, tapi koneksi benang merah yang dulu hilang ada di istriku, dan aku tidak menyesal menikahinya. Sama dengan teman-temanku yang gay, mereka mencintai bukan karena ‘jenis kelamin’ atau ‘kerupawanan’, melainkan mereka menemukan koneksi benang merah tersebut, dan itu tidak dibuat-buat, bukan hasil pengaruh lingkungan. 

Aku tetap memotret penonton yang semakin menggila. Banyak ibu-ibu yang membawa anaknya ikut berteriak. Anaknya hanya bengong kebingungan dan ketakutan. 

“LGBT harus dilarang! Mereka pantas mati!”, sang orator berteriak lagi. Seketika kurasa orator ini semakin lama menjelma menjadi tuhan yang mampu menghakimi hidup seseorang. 

Aku semakin tidak nyaman dengan situasi ini. Aku turun tangga panggung, dan segera pergi keparkiran kendaraanku. 

Hak manusia untuk memilih semakin pudar. Memilih hidup, memiliki hidup, dan menjalani hidup. Hidup mereka semakin diatur oleh tetangganya, dari yang seharusnya ‘privasi’ menjadi ‘publik’.

Aku memasukkan kunci kemotorku. 

Hak manusia untuk hidup tergoyah. Hidup dalam kenyamanan, hidup dalam kedamaian, dan hidup dalam ketentraman.  

Aku tancap gas dan berjalan. 

Hak manusia untuk berekspresi telah hilang. Tidak ada lagi pilihan yang dibuat sendiri, semua pilihan sudah ditentukan, cocok tidak cocok, mereka harus memilih. Apakah ini yang namanya ‘kebebasan berekspresi?’ 

Aku berhenti dilampu merah. 

Apakah bangsa ini sudah berjalan kedepan atau kebelakang? 

Apakah bangsa ini sudah berlari kencang atau berlari ditempat?

Apakah hidup ini ‘kita tentukan’ atau ‘mereka yang mau begini’? 

Apakah hidup ini ‘sebuah ketakutan’ atau ‘sebuah kebahagiaan’?

Bel berbunyi dari belakangku, salah satu pengendara berteriak, “Woi, Mas! Kalau ngelamun dirumah! Ayo jalaaan!” 

Aku tancap gas. 

Sekencang-kencangnya. 

Bangsa ini hanya butuh satu pelajaran, 

satu pengalaman, 

tentang sebuah arti ‘moralitas’. 





-Rahmad Kurniawan

catatan: homophobic person is more disgusting than the homo itself.  

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram