BERTAHAN (CERPEN)

12:30 AM

© People 
Aku memang mencintai wanita didepanku saat ini. 

Dia memiliki sesuatu tak terlihat yang menarikku hingga aku berada disini. 

Kami telah menikah. 7 tahun lalu. 

Anak kami telah berumur 6 tahun, perempuan, namanya Siva. Seperti nama ibunya, Diva.
Kehidupan rumah tangga kami tidak ada yang kurang, semuanya berjalan biasa, dan semuanya bahagia. Tapi tidak ada yang lebih. 

Sebelum menikah, aku selalu mengharapkan hal-hal yang lebih didalam pernikahan, impian-impian yang menjulang tinggi ketika bersama, dan hidup bahagia selamanya. 

Pudar. 

Impian itu, harapan yang tinggi itu sudah pudar. Hilang ditelan realita yang menyilaukan disetiap detak detik waktu didalam kehidupan rumah tangga. 

Diluar kamar, aku dan Diva selalu menjadi contoh yang bahagia, kita tertawa dan tersenyum, bermain bersama Siva, dan semuanya terlihat bahagia untuk diterima Siva. Hingga keadaan luar kamar berbanding terbalik ketika didalam kamar. 

Saat pintu kamar ditutup, Diva diam seribu bahasa. Masuk kekamar mandi dan ganti baju tidur. Aku? Duduk dikasur dan menonton tv. 

Dia tidur disebelahku. Dia membelakangiku. 

Aku melirik ketubuhnya. 

‘Apa benar ini adalah wanita yang kucintai 7 tahun lalu?’, seraya pikirku berkata. 

Aku sudah memutuskan menikahinya 7 tahun lalu, saat itu aku hanya bertemu dan pacaran sekitar 6 bulan. Saat aku bertemu, dia adalah wanita yang dingin dan pendiam, tapi bukan pemalu. Diva memancarkan pesona kecantikan melalui caranya tersenyum, seketika aku ingin dia menjadi istriku. 

Saat itu aku berumur 27, dia berumur 23. Aku tidak ingin terlalu lama menunda untuk menikah, aku ingin segera memiliki pendamping waktu tidur. 

Sebelum bertemu Diva, aku sudah menjalin hubungan dengan Seril selama 10 tahun. Iya, 10 tahun. Seril adalah wanita yang dulu pernah kuberitahu tentang harapan dan impian jika kita menikah, walaupun pada akhirnya tidak. 

Aku tersenyum. 

Tersenyum mengingat bagaimana Seril mengangkat telapak tangannya dan bersumpah: ‘aku akan menjadi pasangan yang setia, romantis, dan tidak nakal buat Rio tersayang.’, dia begitu senang melakukannya ketika kami pergi berdua.

Aku tidak menyesal memberi nama Siva dengan awalan huruf ’S’, yang berarti ‘Seril’. Aku ingin Siva menjadi wanita seperti Seril yang selalu bahagia, dan tidak bertemu bajingan seperti aku ini. 

Aku dan Seril putus karena ‘keluarga’. Bukan hanya keluargaku yang menolak, tapi keluarga Seril juga menolak hubungan kami berdua. 

“Apa kita harus kawin lari kalau begini caranya?”, katanya sambil memegang tanganku, saat itu kita sedang dikafe langganan kita berdua, membicarakan tentang hubungan keluarga yang ‘tidak akan pernah’ sudi untuk merestui hubungan kami berdua. 

“Jangan.”, jawabku singkat. 

“Tapi kita harus tetep sama-sama. Aku cinta sama kamu, Rio. Kamu…”, kata-katanya terpotong, dia melepas tanganku. “Kamu cinta kan sama aku? Kamu mau aku jadi istri kamu ‘kan?” 

Aku terdiam. Jika hubungan ini terus berlanjut, hubungan ini tidak akan mempunyai arah. Hubungan ini hanya berjalan ditempat yang sama, sekalipun itu berlari. 

“Maaf…”, kataku pelan. Air mataku menetes. 

Ekspresi kaget dan sedih terlihat diwajah Seril, air matanya menetes ketika air mataku menetes. 

“K-kamu…”, Seril berdiri dan pergi. 

Aku tidak berani mengejar, kakiku sudah terlalu lumpuh dimakan kata-kataku sendiri, badanku tidak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri. Pikiranku berteriak ‘benar’, tapi hatiku berteriak ‘kejar’. 

Saat itu kami putus, 14 Februari 2014. 

Dua hari setelah itu, 16 Februari 2014, Seril bunuh diri dikamar mandinya sendiri. Dia dikabarkan meninggal karena menyayat nadi tanganya dengan pisau. Tidak ada kabar lagi setelah itu, selain aku yang mengurung diri selama bulan Februari. Hingga aku dirawat dirumah sakit karena kekurangan cairan. 

Saat itu aku hanya ingin mati, ingin meminta maaf ketika aku dan Seril dipertemukan disana. Aku menyesal karena kata-kataku merenggut nyawa seseorang. 

Dan akhir bulan Maret 2014, aku bertemu seseorang yang memberiku harapan baru dan impian baru, dokter yang merawatku: Diva. 

Kupikir pernikahan ini akan berjalan seperti yang aku mau, seperti yang aku bayangkan ketika bersama Seril. Mungkin jika Siva belum ada, aku bisa saja mencari wanita lain. Tapi aku tidak ingin merusak masa depan ‘Siva’. Aku tidak ingin Siva tumbuh sebagai remeja yang ‘Broken Home’.

Aku akan tetap melakukan ini. 

Aku akan tetap tersenyum walau palsu. 

Aku akan tetap bahagia, walau tiada. 

Aku akan tetap begini, selamanya. 

Aku akan disini, untuk bertahan. 


You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram