TAHUN BARU (CERPEN)

8:09 AM

courtesy of Telegraph UK

Aku tidak suka menunggu. 

Aku tidak suka mengantre.

Lebih baik cepat, atau pergi dan cari yang lain. 

Mungkin sifatku yang seperti ini banyak dimiliki orang-orang, aku masih lihat wajah cemberut waktu antrean KFC panjang. Aku masih melihat banyak orang yang wajahnya ditekuk seperti kertas lipat rusak diantrean mini-market depan rumah. 

Tapi mereka lupa, mereka berbohong kepada dirinya sendiri. 

Wajah cemberut itu tidak sama dengan teriakan dijiwa mereka. 

Mereka rela untuk membodohi amarahnya, membodohi dirinya sendiri untuk antrean yang bahkan sebenarnya tidak penting-penting banget bagi mereka. 

Seperti mereka membodohi diri mereka sendiri dengan harapan-harapan tahun baru yang mereka buat tahun lalu. Untuk apa? Untuk apa jika harapan yang mereka buat itu sama sekali tidak tersentuh. Berdebu dan dibiarkan sampai tahun baru datang lagi. 

“Aku ingin jadi Presiden kelak!” 

“Aku ingin kaya tahun ini!” 

“Aku ingin lebih baik tahun ini!”

Harapan-harapan itu sama dengan celotehan. Impian mereka dikatakan sekeras-kerasnya, dafar impian yang mereka buat didalam hidup mereka. Untuk apa mereka menunggu tahun baru untuk melaksanakan dan meraih impian mereka?

Bagiku tahun baru bukanlah apa-apa, aku tidak pernah menunggu tahun baru bagi kehidupan baru, aku akan hidup baru jika aku menginginkan untuk hidup baru, bukan terpaut angka seperti kebanyakan orang lakukan. 

Akan ada banyak yang marah dengan kata-kata didalam hati ini, pembelaan akan muncul dengan alasan: “Lagi mikirin caranya”, aku tidak pernah melihat impian mereka mempunyai cara, mereka sendirilah yang membuat ‘cara’ itu menjadi ‘jurang’ dari ‘tujuan’.

Tahun baru kali ini adalah yang paling meriah. Yang paling banyak didatangi orang. Dan yang paling banyak menunggu untuk melihat kembang api bertaburan dilangit. 

Aku tertawa melihat mereka menunggu. Mereka sudah menyiapkan kamera sana sini, berjaket melawan dinginnya malam ini. Aku yang paling bahagia melihat mereka, dengan bodohnya, menghitung mundur angka yang ada dilayar. 

Bodoh. 

Bodoh. 

Bodoh. 

Mereka sudah diangka 5. Seketika tubuhku ditepuk oleh Bang Joko disampingku, dia mengatakan: “Siap?” 

Aku mengangguk. 

4...

3...

2...

1...

Happy New Year! 

Aku memencet tombol merah ditanganku, sebuah alat yang khusus digunakan untuk membuat daya api yang dibutuhkan para kembang api itu untuk menyala. 

Dibalik penantian mereka menunggu kembang api, aku ada didepan mereka, mereka menunggu kembang api. Mereka menungguku, aku yang mereka tunggu. 

Tanpa aku, mereka hanya sekumpulan makhluk tanpa nyawa yang menanti kembang api diawan. 

Tanpa tombol yang kupencet ini, para kembang api tidak akan pernah nyala. 

Bang Joko menepuk punggungku lagi, “Oke Sip! Bayaran lu besok lu ambil di gue.” 

Aku tersenyum mengangguk pelan berterima kasih. 

Sekarang apa? Aku akan pulang, tidur, dan siap cari pekerjaan lagi.




--Rahmad Kurniawan/ 17-Januari-2016



You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram