MUNAFIK (CERPEN)

12:25 AM

© Pinterest 

Suara sendu hujan mengiringi tapak kakiku yang begitu yakin menghantam tanah, tas hitam yang kupegang tak berdaya menahan air untuk menyentuh wajah dan kepalaku. Mereka berdatangan, beribu menyerang tanpa menyakiti. 

Kuterobos hujan ini tanpa bantuan kain atau plastik apapun. Aku tidak takut. 

Jalan ini seketika tampak sepi saat aku berjalan. 

Tak pernah kulihat jalan sesepi ini sebelumnya, mereka bersembunyi, tak punya nyali untuk bertahan diri dibawah serangan hujan ini. 

Aku sendiri, berjalan dengan tegar tanpa malu untuk dilihat ratusan mata yang sedang memandangiku dibawah atap. 

Aku hidup dikota yang tak pernah tidur, kehidupan muncul dari pagi hingga pagi. Aku hanya salah satu dari sekian ratusan juta penduduk kota ini. Sekian ratus juta yang tidak mau terlihat bodoh dihadapan orang lain, tidak mau terlihat jelek dihadapan orang lain. Apakah aku sama dengan mereka? Apakah aku ini hanya salinan dari mereka? 

Mereka yang berteriak ‘TIDAK TAKUUUUT!’ tapi ketika hujan turun mereka akan berteduh dan berbisik, “Takut Basah…”. 

Mereka yang berteriak, “Anak kecil tidak boleh merokok!”, tapi mereka sedang menikmati asap tembakau yang menari diparu-paru mereka. 

Mereka yang berteriak, “Jangan merusak alam!”, tapi mereka sedang duduk dibangku kayu yang membunuh seribu pohon untuk membuat sebuah kursi. 

Dunia apa ini? 

Hari ini adalah hari perlawananku untuk dunia seperti ini, untuk keadaan seperti ini. Aku tidak betah hidup diantara dua sisi kehidupan, aku tidak ingin berjalan dijalur yang berbeda. 

Beberapa detik yang lalu aku resmi menjadi pengangguran, aku sudah tidak mau bekerja dengan ular berkepala dua. Aku tidak hanya berbicara atasan, aku berbicara dengan SEMUANYA. Bahkan teman sekantorku pun, memiliki dua wajah dan dua kehidupan yang berbeda. Terlalu banyak wajah yang tak seharusnya muncul dikantor. 

Bawahan akan selalu senyum didepan atasan. Padahal mereka sedang berteriak menyumpah serapah atasan mereka ketika berhadapan. 

Aku pun juga sudah muak dengan teman kantorku yang selalu lupa dengan pinjaman alat tulis, aku memasang wajah ‘oh nggak apa-apa kok santai aja’, padahal didalam hati berkata: ‘anjing! lo kira itu murah’. 

Beberapa menit yang lalu, aku datang keruangan atasan. 

Aku menggebrak mejanya. 

Dia kaget, aku tidak. 

Aku berteriak kencang dimukanya. Teriakanku terdengar dari luar ruangan.

Aku meneriakan kekesalanku, kebanggaanku, kesetiaanku, ketidak setiaanku, kebodohanku, kemarahanku, kebaikanku, dan semuanya yang pernah kuberikan kepadanya. 

Satu kali teriakan = Seribu masalah dan pujian. 

Setelah itu aku keluar dari ruangan, dan seluruh wajah dan mata menusukku dengan pertanyaan tanpa suara, “Apa yang sudah terjadi?” 

Aku tidak peduli. 

Aku akan pergi. 

Dari kota yang penuh wajah seperti ini. 

Aku sudah tidak betah hidup seperti ini. 

Biarkan aku pergi ke utopia. 

Biarkan aku mandi dengan air hujan ini. 

Biarkan aku membasuh suci diriku dari air alam ini. 

Aku ingin menjadi orang baru. 

Aku ingin menjadi orang yang lebih baik. 

Mulai hari ini, 

Mulai detik ini, 

Aku bukan orang hipokrit,


Aku bukan orang munafik.


- Rahmad Kurniawan/ 25 Januari 2016

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram