PULANG (CERPEN)

3:58 AM



Mataku terpejam.

Tubuhku melayang diarus hembusan wahyu. Menari dalam indahnya alunan iramanya, menari dengan seribu daun yang tak pernah malu datang ketika tubuhku mulai terbang. 

Terdengar percikan seribu air berputar melagukan melodi yang tak pernah kudengar sebelumnya. Apakah ini suara surga? Apakah aku sudah sampai disurga? 

Berputar, tubuhku berputar mengikuti alur.

Terasa kedinginan menusuk menembus kulit sampai ke nadi. Memori antara jurang masa lalu dan masa depan begitu tampak dihadapan mata. Aku tidak ingin disini!, apalah dayaku, otakku dan jaringan-jaringan saraf ditubuhku sudah tidak ingin bekerja sama, mereka sibuk merasa-mendengar-mengeluh-bertanya tentang apa yang melanda sektor bagian mereka. 

Hangat. Seketika kedinginan tadi lenyap menjadi kehangatan. Sarafku mulai tenang, melupakan ketegangan yang tadi terjadi. Bayangan kebahagiaan, kebersamaan, dan rasa rindu bersatu menjadi kubuh yang berlawanan, mereka menepis segala ketakutan jurang masa lalu dan masa depan, mengubah jembatan yang semula panjang menjadi daratan yang tak memiliki ketinggian, yang lalu membuatku ingin tinggal lebih lama disini. Apakah ini surga? 

Aku tidak mau membuka mataku. Aku betah disini. Aku mau tinggal disini. 

Lenyap. Semuanya Hilang. 

Tubuhku seperti terhempas jatuh dari angkasa. Sama sekali tak menyentuh daratan, melawan berjuta awan ber-es hingga aku bisa mencium aroma darah dari punggungku sendiri. Menjerit. Aku menjerit tak bersuara, melawan kedapnya suara diantara beribu angin yang menyerang. Apa salahku!? 

Sudah berapa lama aku terlena dengan kehangatan? Aku melupakan ketakutan. Aroma darah, aroma tubuh, aroma keringat, aroma yang tak seharusnya kuhirup semakin semerbak dihidung, semakin bercampur dengan angin yang terus menerus semakin menggerogoti punggungku. 

Gambaran tentang kematian, tentang kehancuran, tentang hal-hal yang sama sekali tidak aku inginkan terlihat jelas dibalik kelopak mataku. Maafkan aku, Tuhan! 

Seketika, dibalik punggungku, aku tertahan oleh sesuatu dari tubuhku sendiri. Kakiku tak menapak daratan, tanganku tak bergantung, tubuhku tak menyentuh apapun, kepalaku masih utuh, dan suasana mengerikan tadi telah hilang. 

Aku membuka mataku.

Aku melayang dikegelapan. Aku tidak bisa melihat apapun kecuali tubuhku. Apa ini? 

Tiba-tiba dari sudut pandang, terlihat celah yang mulai menyinari ruangan. Sedikit demi sedikit celah itu terbuka, aku terseret oleh celah dengan cahaya putih yang mulai menyedot tubuhku kesana. Aku terhempas, terombang-ambing diketidak pastian. 

Aku tidak mau memejamkan mata! 

Biarkan aku melihat siluet warna warni putih yang bercampur dengan ribuan warna yang tidak kukenali. Biarkan aku menikmati terombang-ambinganku ini dengan beribu rasa yang tak bisa dijelaskan, sedikit demi sedikit, aku mulai pusing dengan ini, warna-warna itu berubah menjadi hitam. 

Sekelebat, bayangan rumah tampak. 

Wajah Ibu. 

Wajah Ayah. 

Mereka memberiku setetes air minum yang mereka teteskan dari air matanya. Lidahku merasakan kesedihan, kepahitan, ketidakadilan, dan kerinduan. Apakah mereka merindukanku? 

Untuk pertama kalinya, aku mencoba melawan disituasi ini. Aku mencoba berdiri diruang tanpa gravitasi ini. Berat, tapi tetap kucoba. Aku melawan! Aku melawan! 

Aku ingin pulang! 

Tiba-tiba, ruangan ini menjadi penuh dengan gravitasi. Tubuhku bukan lagi melawannya, malah mendorong gravitasi yang tadi kuperjuangkan. Tubuhku berputar seperti gasing, tidak bisa berhenti, aku menangis, aku tertawa, bergantian, sekarang tubuhku merasa menang, disisi lain merasa sedih. 

Aku tidak bisa mengontrol ini, aku tidak bisa! 

Daun-daun yang dulu ada, sekarang hadir menyentuh kulitku. Aku bisa melihat wujudnya. Sama sekali tidak indah, aku merasa dibodohi oleh indera perabaku. Sisi yang kupikir halus, ternyata memiliki duri yang siap melukai kulitku. 

Celah cahaya itu datang lagi. 

Mereka bergerak semakin cepat menerjangku. 

Silau membakar mata, membunuh kelopak. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. 

Dihadapanku sudah ada wajah Ibu dan wajah Ayahku dan satu orang dokter. 

“Akhirnya kamu sadar, Lina.”, kata Ibuku sambil memeluk tubuhku.

— LINA, korban tsunami yang koma 2 tahun. 

(FIKSI)


  • Rahmad Kurniawan

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram