DEWASA (CERPEN)

4:36 AM



Aku tidak pernah percaya dengan mitos yang mengatakan 'umur 20 kamu akan berubah, seluruh sel diotakmu memperbarui diri, tubuhmu sepenuhnya bukan dirimu yang dulu', itu kuanggap takhayul, sama sekali tidak nyata.

Aku pernah yakin kalau hubungan pertemanan kita akan berjalan selamanya, sampai kita mempunyai pasangan masing-masing dan menjadi sahabat tua yang bersama-sama.  Kita akan tetap muda walaupun sudah punya cucu, dan kita akan berteman hingga terpisahkan oleh maut. Bukankah itu indah? 

Sekarang aku baru merasakan, takhayul itu benar benar nyata. 

Aku selalu merindukan bagaimana kita tertawa, bagaimana kita bersedih, bagaimana kita merencanakan masa depan, dan berjanji tidak akan pernah berpisah. Berjanji walaupun nanti kita sudah mempunyai pasangan, mempunyai keluarga, kita akan selalu bersama, karena kita adalah sahabat sampai mati. 

Setelah sekian lama bahagia, aku sekarang berada diujung jurang. Tidak ada jalan untuk maju kedepan, dan jalan yang tadi kulewati sudah jatuh kebagian paling dasar bumi ini. Aku terjebak. 

Aku terjebak didalam tawa yang sekarang menjadi embun, terjebak didalam kenangan yang terasa membosankan, terjebak dalam indahnya bayangan masa depan yang benar-benar semu, terlihat pudar dan lenyap ditelan dinginnya ujung jurang ini.

Kita terpisah jauh dari jurang ini, aku bisa merasakan kedinginan dan kematian yang mulai menghantui. Tidak ada pilihan lain selain: terjun.

Terjun dan berharap untuk melayang dan terbang menemukan peri yang bisa memberiku keajaiban. Keajaiban yang bisa memberiku keselamatan dan memberiku jalan untuk melangkah kedepan

Atau terjun tanpa harapan, terhempas ke pepohonan tanpa daun yang sudah kering dimakan waktu, tertusuk batangnya yang tajam, berdarah sampai mati.

Setragis itulah keadaanku sekarang: bimbang. Aku bingung menentukan, takut untuk berharap, dan takut untuk tertusuk batang pohon dibawah.

Apakah peri itu benar-benar ada? 
Apakah keajaiban itu nyata?
Apakah rasa yang dulu sudah tiada?

Ya! Itu yang kurasakan sekarang, bukan lagi orang yang sama, bukan lagi tawa yang sama, bukan lagi penghayal yang sama. Aku bukan lagi diriku, semuanya terasa begitu asing, semuanya terasa usang, dan pelangi diotakku tertahan oleh kepalaku sendiri. 

Pelanginya bukan lagi berwarna merah kuning hijau tapi hitam pekat tanpa hiasan kerlip yang indah, yang ada hiasan jaring laba-laba.


Tolong aku dalam keadaan seperti ini, tolong aku tanpa mengubah darahku menjadi darahmu, bantu aku berwarna lagi, bantu aku untuk melayang diudara, bantu aku melewati fase ini. Fase menuju kedewasaan. 



- Rahmad Kurniawan / 31-12-2015 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram