Semut Beringas (CERPEN)

10:36 AM



Apakah aku benar-benar dibutuhkan disini? 

Mereka mengabaikan badan sebesar ini, kacamata setebal ini, dan baju serapi ini. Aku berdiri melihat mereka mondar-mandir dihadapanku. Mengabaikan pria yang sedang melihat gerak gerik mereka yang cepat. 

Aku bersekolah tinggi hanya untuk ini? Bersekolah sampai SMA, lulus S1, hanya untuk jadi pembantu para senior? Sia-sia rasanya aku dulu belajar bagaimana variabel A bertemu dengan variabel B yang akan menghasilkan variabel C dari perkawinan D+E. SIA-SIA! 

Aku berjalan sambil membawa cangkir ke meja kantorku

Bahkan dijam istirahat, aku masih melihat mereka sibuk sendiri, stress, menangis, tertawa karena pekerjaan mereka. Aku adalah mereka, Mereka sama denganku, lulusan sekolah tinggi. Apa memang ini takdir lulusan sarjana muda? 

Banyak yang sukses tanpa gelar, tanpa latar pendidikan yang baik, tapi mereka kaya raya dan sukses tujuh turunan. Apa rahasia mereka? Apa mereka main dukun? Atau memang murni usaha mereka sendiri? 

Rasanya menyesal sekali dulu aku hanya fokus dipendidikan. Dulu aku terlena bahagia dengan pelajaran-pelajaran yang diberikan dosen. Mabuk dengan variabel-variabel yang diberikan. Mabuk variabel? Konyol. Tapi memang kenyataan. 

Mataku baru terbuka saat ini, saat aku sudah duduk diantara seribu kursi dengan meja, dan sekat-sekat pembatas antara pegawai yang juga banyak. Aku baru sadar bahwa aku terjebak diantara mereka yang mungkin saja masih tertidur, mungkin saja sudah terbangun, dari mimpi-mimpi yang diberikan oleh orang tua. 

Berjuta-juta kali ibuku berkata, “Sekolah yang pintar! Biar sukses!”, ya, terima kasih Ibu, lihatlah anakmu ini sekarang, terjebak diantara seribu semut yang sedang mencari sebutir gula diantara bebatuan. Siapa yang beruntung mendapatkan gula, dialah yang sukses. Tapi… mungkinkah aku mendapatkannya

Untuk apa aku terlahir didunia ini jika akhirnya aku mati dengan predikatbabu bos’? 
Aku tidak dilahirkan disini untuk mati sebagai ‘babu’ 
Aku yakin dilahirkan untuk mati sebagai ‘bos’ 

Baiklah! Aku akan menjadi semut yang beringas! 
Semut yang berdarah-darah untuk mendapatkan sebutir gula yang tersembunyi dibalik bebatuan! 
Aku harus sukses! 
Walaupun baru bangun sekarang!

“EH CUPU! MANA LAPORANNYA! CEPETAN!”, kata seniorku. 


Ya Tuhan! Aku lupa! Aku bergegas lari kemesin fotokopi. 

-- 

Rahmad Kurniawan 

-Rahmad Kurniawan

baca cerpen lainnya dikolom cerpen diatas.  :) 

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram