Pendosa Jatuh Cinta (CERPEN)

7:43 AM

courtesy of Colourbox


Aku terlalu bosan dengan suasana ini. Bosan dengan tempat ini. Semuanya masih terasa begitu sama dengan kemarin, sama sekali tidak berbeda, aku benci dengan tempat ini. Ketika dia masih disini. 

Air dikran itu masih berintik sama. Tapi katamu dulu: “Aku suka dengan denting air itu.”, saat itu kita berpelukan diatas sofa, melihat indahnya awan sore hari dijendela kamar. Hangat sekali. Rindu sekali, rindu dengan pelukanmu. 

Katamu dulu kamu suka dengan rambutku yang panjang, berkuncir satu. Rambutku masih berkuncir satu, masih panjang, dan sudah kucuci tadi pagi dengan aroma kesukaanmu ‘Aroma Cokelat’. 

Kau suka membelai rambutku, menciumnya, sampai kau mengecup bibirku. Apakah kau juga merindukannya sekarang? Ciuman disofa sore hari itu? 

Mungkin aku terlalu bodoh sehingga aku jatuh cinta kepadamu. Mungkin dulu aku terlalu buta ketika kau menatap mataku. Atau aku terlalu mati rasa ketika kau mengecupku? Manis sekali jika diingat, bibirmu manis sekali. 

Sudah kubilang, hubungan kita tidak akan lama jika terjadi. Tapi kenapa aku mau denganmu? Kenapa aku mau menjadi kekasih gelapmu? Apakah cinta kita sebegitu butanya sampai-sampai kamu mau gelap-gelapan?

Tapi akhirnya aku mau. Aku mau mencintaimu. Awalnya aku ragu, awalnya aku tidak akan menganggap hubungan ini serius. Aku berlagak santai. 

Aku membelot, perasaan ini semakin hari semakin tumbuh, dari hanya bibit sekarang sudah tumbuh pohon rindang dengan buah-buah yang tidak mempunyai daging, dengan harapan-harapan yang tidak akan pernah terjadi. Dan tiba-tiba undangan pernikahanmu sudah ada didepan pintu. 

Ketika itu aku sadar, mungkin hanya orang bodoh yang mencintaimu. Mungkin hanya orang gila yang akan mencintaimu, mungkin hanya pendosa yang jatuh cinta kepadamu. 

Dan akulah orang bodoh itu. 

Akulah orang gila itu. 

Akulah pendosa itu. 








Rahmad Kurniawan 

-Rahmad Kurniawan

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram