Detik Terakhir (CERPEN)

12:38 PM



Aku akan menjadi manusia paling menyesal didunia ini.

Pantai yang sangat indah, langit biru, cahaya yang hangat, dan aroma air laut yang dibawa sang gelombang kedaratan.

Perjalanan menuju pulau lengkuas yang tak kalah indahnya. Melihat pulau-pulau kecil yang indah itu tertata sangat artistik karya tuhan. Tidak lupa lumba-lumba yang menyambut perjalananku ke Pulau Lengkuas.

Diujung mercusuar, melihat dan merasakan pemandangan yang cantik itu dari ketinggian. Bayangkan, betapa bahagianya jika aku bisa menjadi burung dipulau ini.

Tapi pemanadangan itu berubah, sekarang hanya aku dan Lea, sahabatku, yang sedang mengantri untuk membagasikan barang bawaan kami yang 10x lipat lebih banyak sebelum kita berangkat.

Tinggal beberapa langkah lagi, aku harus meninggalkan pulau yang sangat indah ini.

Bodohnya, aku hanya tinggal disini selama 4 hari saja. Iya, itu sangat bodoh, untuk seseorang sepertiku yang akan kembali pulang ke Jakarta. Dan merasakan kepenatan sang ibu kota yang tidak pernah berhenti membuat hati penduduknya.

“Surya…”, panggil Lea, ia sudah bersiap untuk menimbang barang bawaannya, kresek-kresek yang berisi kerupuk khas Belitung, kebagasi.

“Mm…”, mataku masih kosong melihat antrian.

“Lo gak salah pilih tempat ini buat liburan. Gila… keren banget!”, katanya. “Belitung… tunggu aku kembali !”, Lea semangat sekali ketika mengucapkannya.

“Iya, ini keren. Tapi lo kan tau sendiri, ini juga tiket dari kakak gue, Le.”

“Oiya… lupa. Berarti kita harus liburan sendiri besok-besok.”, katanya berangan-angan.
“Besok-besok? Kapan-kapan! Kan ini kita mau pulang, Le.”

“Oiya. Kita mau pulang.”

Sekarang yang ada dibenakku adalah… gue gak mau pulang.

Bukan, ini bukan liburan yang direncanakan. Ini liburan dadakan.

Seminggu yang lalu, kakakku datang dan memberi tahu kalau istrinya tidak mau naik pesawat kalau bulan madu, padahal semuanya sudah dipesan, mulai dari hotel sampai akomodasi. Dia memberiku tiket bulan madunya ke aku, dia bilang masih bisa diurus untuk namanya. Keberuntungan kan?

Mumpung lagi liburan semester, aku ajak Lea, teman baik wanitaku untuk mengisi satu tiket yang sedang kosong itu. Lumayan temen ngobrol kalau lagi bosen.

Tinggal 3 antrian lagi. 

Sekarang, kenanganku dengan pulau ini mulai muncul. Rasa asam dan gurih dilidahku kembali lagi. Ini rasa yang sama persis ketika aku memakan sesuap kuah lempah dimulutku. Warung kecil dengan meja reot yang nyaman itu masih terasa dibenakku. Bahkan, perasaan itu jauh lebih terasa nyaman ketika didetik-detik akhir untuk meninggalkan pulau ini.

Tiba-tiba senyuman itu terlintas dipikiranku. Senyuman seorang pemandu wisata. Namanya Nina. Dan dia adalah pemandu wisata yang sudah dipesan jauh-jauh hari. Dia menemani hari-hariku disini selama 4 hari.

Tinggal 2 antrian, dan kami sudah mendekati gerai bagasi.

Keindahan pulau kecil ini sekarang mengikatku. Sangat ketat sampai aku tidak bisa bergerak sama sekali. Rasanya momen-momen itu ingin aku ulangi sekali lagi.

“Tapi, Sur. Si Nina itu baik ya, cantik juga.”, kata Lea menyadarkanku.

“Iya… cantik.”, jawabku pelan.

“Kayaknya dia sama pulau ini itu kayak adek-kakak. Sama-sama indahnya.”

“Lo bener, Le.”, kataku semakin sadar. 

Tunggu sebentar… sepertinya sekarang aku sedang menceritakan Nina dipikiranku. Pikiranku mulai berputar kembali keawal aku datang kemari. Rambutnya yang panjang lurus dan matanya yang sedikit sipit dan kulitnya yang sawo matang… membuatku sedikit terpesona dengan pemandu wisataku sendiri.

Diperjalananku ke Pulau Lengkuas, yang paling banyak kulihat adalah wajah Nina yang sedang tersenyum. Keindahan itu sangat indah, benar-benar tidak bisa digantikan. 

Dan… ketika aku dipantai kecil itu. Kebanyakan yang kupandang adalah Nina. Nina yang sedang tertawa bahagia dengan Lea. Seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Aku hanya memandangi Nina… dan selalu berkata ‘indah…’

Kenapa keindahan pulau ini bisa tertukar dengan keindahan Nina? aku tidak bisa menjawab.

Tinggal satu antrian. Dan semua penyesalanku menjadi terasa nyata.

Sehari sebelum aku pulang, aku masih ingat rasa kecupannya diujung mercusuar. Rasanya lebih enak daripada makanan lempah disini yang menurut banyak orang enak. Asam dan gurih, ini adalah rasa kecupan yang sangat indah dan paling nyaman didunia. Tanganku dipipinya, bibirnya dibibirku, seakan mercusuar itu milik kita berdua. Nina dan aku.

Hari ini, dia tidak datang. Karena aku akan pergi. Tanpanya.

Aku adalah manusia paling menyesal didunia ini sekarang. Didetik-detik terakhir, aku baru menyesali semuanya. Keindahan Nina mengalahkan segalanya. Bahkan diriku sendiri sebenarnya tidak mau pulang.

Sekarang giliranku dan Lea dimeja bagasi. Aku mengambil tasku, memberikan tiket penerbangan ke Lea. Aku membuka ganggang koperku.

“Loh, Sur. Ini ditimbang dulu.”, kata Lea.

Gue gak mau pulang… aku berjalan kepintu keluar bandara.

“Sur!, MAU KEMANA LOOO !?”, panik Lea yang masih berdiri kaku didepan meja.

Aku berbalik dan tersenyum, “Loe pulang dulu, gue nyusul!”, kepalaku berbalik lagi siap untuk meninggalkan bandara ini.

“Iyaaa! LO MAU KEMANA !?”, Lea semakin heboh.

“CARI HARTA KARUN !”, jawabku yang membuat geli para pengantri dibelakang Lea.


Cari Nina, cari Nina, cari Nina.

- Rahmad Kurniawan

You Might Also Like

0 komentar

Facebook

Instagram